Memilih Database yang Tepat: PostgreSQL, MySQL, MongoDB, SQLite, atau Redis?

Untuk sebagian besar aplikasi bisnis, database yang tepat justru yang membosankan, dan yang sulit adalah mengenali kapan itu tidak berlaku. Kelebihan PostgreSQL, MySQL dan MariaDB, SQLite, MongoDB, serta Redis atau Valkey, pertanyaan yang menentukan pilihan, versi yang segera berakhir masa dukungannya, dan kesalahan yang mahal untuk diperbaiki.

Dipublikasikan 10 menit baca
Tulisan DATA dari titik-titik pada kaca jendela

Memilih database adalah salah satu dari sedikit keputusan teknis dalam proyek yang benar-benar sulit dibatalkan. Framework bisa di-upgrade dan server bisa diganti, tetapi data bertahun-tahun beserta query dan laporan yang dibangun di atas satu database cenderung akan tetap di sana. Kabar baiknya, keputusan ini biasanya lebih sederhana daripada perdebatan di internet. Untuk sebagian besar aplikasi bisnis, database relasional adalah inti yang tepat, dan pertanyaan sebenarnya adalah yang mana, apa yang perlu ditambahkan di sampingnya, dan kapan. Panduan ini membahas pilihan yang kami pakai di proyek klien dan pertanyaan yang kami ajukan sebelum memilih.

Mulai dari Pertanyaan, Bukan dari Produk

Perbandingan database biasanya dimulai dari fitur dan benchmark. Dalam praktiknya, pilihan ditentukan oleh beberapa pertanyaan tentang aplikasi dan tim yang mengelolanya:

  • Bagaimana hubungan antar-datanya? Pelanggan, pesanan, invoice, produk, dan stok saling terkait erat, dan angkanya harus selalu cocok. Itu mengarah ke database relasional dengan transaksi.
  • Berapa jumlah data dan trafik yang realistis dalam tiga tahun ke depan? Jujurlah. Sistem untuk perusahaan dengan 200 karyawan atau 50.000 pelanggan masih sangat nyaman ditangani satu server PostgreSQL atau MySQL.
  • Apa yang sudah dikuasai tim? Database yang bisa di-tuning, di-backup, dan di-restore oleh tim saat situasi genting lebih berharga daripada database yang secara teori lebih bagus tetapi belum pernah dioperasikan siapa pun.
  • Akan dijalankan di mana? Shared hosting, VPS, Kubernetes, atau layanan managed seperti Amazon RDS dan Google Cloud SQL masing-masing mempersempit pilihan. Jika data harus tetap berada di Indonesia, pastikan penyedianya punya region Jakarta.
  • Data itu akan dipakai untuk apa lagi selain aplikasi? Laporan keuangan, dashboard, ekspor, dan integrasi hampir selalu butuh SQL, join, dan angka yang konsisten.

PostgreSQL: Pilihan Default yang Aman

Jika tidak ada alasan khusus untuk memilih yang lain, kami mulai dengan PostgreSQL. Ini database relasional yang sepenuhnya open source, dengan transaksi yang ketat, query planner yang andal, dan fitur yang mencakup kebutuhan yang dulu memerlukan database kedua. Kolom JSONB bisa menyimpan dan meng-index data dokumen yang fleksibel di samping tabel biasa. Full-text search bawaannya cukup untuk fitur pencarian sederhana. Extension menambahkan query geospasial lewat PostGIS dan pencarian vektor untuk fitur AI lewat pgvector, sehingga chatbot berbasis RAG sering kali bisa berjalan di database yang sama dengan aplikasinya.

Setiap versi mayor mendapat perbaikan selama lima tahun. PostgreSQL 18 adalah rilis terbaru saat ini, dan versi 19 dijadwalkan rilis pada 19 November 2026. Perhatikan juga tanggal lain bulan ini: PostgreSQL 14 mencapai end of life pada 12 November 2026, sehingga server yang masih memakainya tidak akan mendapat perbaikan keamanan lagi. Upgrade antar-versi mayor perlu sedikit perencanaan, lewat pg_upgrade atau logical replication, tetapi prosesnya sudah rutin.

MySQL dan MariaDB: Ekosistem Paling Luas

MySQL menjalankan sebagian besar web, termasuk WordPress dan hampir semua shared hosting di Indonesia, dan bekerja baik dengan Laravel, Django, serta semua framework besar. Untuk aplikasi web pada umumnya, MySQL dengan InnoDB sudah lebih dari cukup, dan mencari developer maupun hosting untuknya sangat mudah. MySQL adalah pilihan yang masuk akal jika tim sudah menguasainya atau lingkungan hosting hanya menyediakan MySQL.

Yang perlu dicek adalah versinya. MySQL 8.0 sudah end of life sejak April 2026. Oracle kini menyediakan dua jalur dukungan jangka panjang, 8.4 dan 9.7, dan aplikasi yang masih di 8.0 sebaiknya pindah ke salah satunya. Upgrade dari 8.0 biasanya lewat 8.4 terlebih dahulu. MariaDB, fork komunitas dari MySQL, sekarang sudah menjadi produk tersendiri dengan rilis jangka panjangnya sendiri seperti 12.3. Awalnya MariaDB dibuat sebagai pengganti yang langsung kompatibel, tetapi keduanya sudah berbeda di beberapa area seperti penanganan JSON dan replikasi. Jadi perpindahan di antara keduanya harus diperlakukan sebagai migrasi yang diuji, bukan sekadar ganti paket.

SQLite: Lebih Kecil dan Lebih Tangguh dari Dugaan

SQLite bukan server. SQLite adalah library yang menyimpan seluruh database dalam satu file di dalam aplikasi. Karena itu SQLite menjadi pilihan standar untuk aplikasi mobile, software desktop, perangkat di lapangan, dan automated test, dan cukup andal untuk dipakai di pesawat terbang serta di setiap smartphone. SQLite juga cocok untuk website kecil dan tool internal dengan trafik yang tidak besar. Batasannya ada di konkurensi: banyak proses bisa membaca bersamaan, tetapi hanya satu yang bisa menulis dalam satu waktu. Untuk aplikasi web multi-user yang sibuk dengan server aplikasi terpisah, database client-server lebih tepat.

MongoDB: Saat Datanya Memang Berupa Dokumen

MongoDB menyimpan dokumen mirip JSON, bukan baris. Database ini cocok untuk data yang bentuknya berbeda-beda di setiap record dan biasanya dibaca utuh: katalog produk dengan atribut yang berbeda di tiap kategori, konten dan isian formulir dengan field yang terus berubah, atau data event dari banyak sumber. MongoDB bisa diskalakan ke banyak server lewat sharding, dan sudah mendukung transaksi multi-dokumen sejak versi 4.0.

Masalah muncul ketika MongoDB dipilih untuk menghindari desain skema. Skemanya tetap ada, hanya saja sekarang tinggal di dalam kode aplikasi, dan data bisnis jarang bisa berdiri sendiri lama-lama. Begitu laporan perlu menggabungkan pesanan dengan pelanggan, pembayaran, dan stok, tim akhirnya menulis join secara manual di kode atau menyalin data antar-collection lalu menjaga semua salinan itu tetap sinkron. Lisensinya juga perlu dibaca: MongoDB didistribusikan dengan SSPL, yang tidak termasuk lisensi open source menurut definisi OSI dan membatasi penyediaan database itu sendiri sebagai layanan.

Redis dan Valkey: Pendamping, Bukan Penyimpanan Utama

Redis menyimpan data di memori dan menjawab dalam waktu jauh di bawah satu milidetik. Redis adalah pilihan umum untuk cache, session, antrean, rate limiting, dan leaderboard, dan aplikasi Laravel, Django, maupun Node.js banyak memakainya untuk keperluan tersebut. Redis bukan tempat menyimpan data bisnis utama: fitur penyimpanan ke disk memang ada, tetapi desainnya mengasumsikan bahwa isi Redis bisa dibangun ulang dari database utama.

Lisensinya sudah berubah dua kali dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024 Redis meninggalkan lisensi open source-nya, lalu sekelompok kontributor yang didukung AWS, Google, dan Oracle memulai Valkey, fork berlisensi BSD di bawah naungan Linux Foundation. Lewat Redis 8 pada 2025, Redis menambahkan AGPLv3 sebagai salah satu pilihan lisensi, yang di sebagian perusahaan tidak diizinkan. Untuk sebagian besar aplikasi keduanya bekerja dengan cara yang sama; layanan managed semakin banyak menawarkan Valkey, dan pilihannya biasanya bergantung pada kebijakan lisensi perusahaan dan apa yang didukung penyedia hosting Anda.

Ringkasan Perbandingan

DatabasePaling cocok untukYang perlu diwaspadai
PostgreSQLAplikasi bisnis, pelaporan, data JSON dan vektor dalam satu tempatUpgrade versi mayor perlu direncanakan; versi 14 berakhir 12 November 2026
MySQLAplikasi web, dukungan hosting dan framework yang luasVersi 8.0 sudah end of life; pindah ke 8.4 atau 9.7 LTS
MariaDBKebutuhan yang kompatibel dengan MySQL, dengan lisensi komunitasSudah tidak bisa langsung menggantikan MySQL versi terbaru
SQLiteMobile, desktop, embedded, testing, website kecilHanya satu proses yang bisa menulis dalam satu waktu
MongoDBDokumen beragam yang dibaca utuh, skala horizontalLaporan lintas collection, lisensi SSPL
Redis atau ValkeyCache, session, antrean, rate limitingBukan penyimpanan utama; cek lisensinya

Kapan Perlu Database Kedua

Aplikasi yang terus tumbuh kadang melampaui apa yang bisa ditangani dengan baik oleh satu database, tetapi pemicunya harus masalah yang terukur, bukan sekadar diagram arsitektur. Sebelum menambah apa pun, cek dulu apakah bagian yang lambat bisa diperbaiki dengan index yang tepat atau query yang lebih baik. Jika tidak bisa, berikut tambahan yang biasa dipakai:

  • Pencarian yang toleran terhadap salah ketik, dengan peringkat relevansi dan filter di jutaan produk: mesin pencari seperti Elasticsearch, OpenSearch, atau Meilisearch, yang datanya diisi dari database utama.
  • Dashboard analitik atas ratusan juta baris, sampai laporan memperlambat aplikasi: database berbasis kolom seperti ClickHouse, atau read replica sebagai langkah awal yang lebih murah.
  • Data sensor atau monitoring dalam volume besar dari waktu ke waktu: extension TimescaleDB untuk PostgreSQL, atau database time-series khusus.
  • Cache dan antrean seiring trafik bertambah: Redis atau Valkey di samping database utama.

Setiap database tambahan berarti satu sistem lagi yang harus diamankan, di-backup, dipantau, di-upgrade, dan dijaga tetap sinkron. Tambahkan hanya jika manfaatnya jelas, dan tetapkan satu database sebagai sumber kebenaran.

Kesalahan yang Mahal untuk Diperbaiki

  • Memilih untuk skala yang tidak akan pernah dicapai bisnis. Database terdistribusi dan sharding menyelesaikan masalah yang hanya dimiliki segelintir perusahaan, dan membuat setiap hari pengembangan jadi lebih berat.
  • Memberi setiap microservice database sendiri sebelum domain bisnisnya benar-benar dipahami. Data yang seharusnya satu jadi terpecah, dan laporan sederhana berubah menjadi proyek integrasi.
  • Menjalankan database tanpa backup yang pernah diuji. Backup yang belum pernah di-restore hanyalah harapan, bukan backup. Jadwalkan uji restore minimal setiap tiga bulan.
  • Bertahan di versi yang sudah end of life. MySQL 8.0 dan PostgreSQL 14 adalah yang perlu dicek tahun ini, baik di server sendiri maupun di layanan managed, yang lambat laun akan mengenakan biaya tambahan atau meng-upgrade secara otomatis.
  • Memilih database karena satu benchmark. Benchmark hanya mengukur satu jenis beban di satu mesin. Query, data, dan index Anda sendiri yang menentukan hasil sebenarnya.

Panduan Singkat Memilih

  1. 1Membangun aplikasi bisnis seperti ERP, toko online, sistem booking, atau tool internal: mulai dengan PostgreSQL, atau MySQL jika tim atau hosting Anda sudah terbiasa dengannya.
  2. 2Membangun aplikasi mobile atau desktop yang menyimpan data di perangkat: gunakan SQLite.
  3. 3Menyimpan dokumen berstruktur longgar dalam jumlah besar yang jarang digabungkan: pertimbangkan MongoDB, dan tetap simpan data transaksi bisnis di database relasional.
  4. 4Butuh kecepatan untuk pembacaan berulang, session, atau antrean: tambahkan Redis atau Valkey di samping database utama.
  5. 5Mentok di batas yang terukur untuk pencarian atau analitik: tambahkan mesin khusus untuk tugas itu saja dan isi datanya dari database utama.

Database yang dipilih dengan baik adalah database yang tidak perlu Anda pikirkan lagi: rutin di-backup, dipantau, di-upgrade sesuai jadwal, dan cepat karena query serta index-nya dirancang dengan cermat. Jika Anda sedang memulai sistem baru atau ragu apakah database yang sekarang masih cocok, tim kami siap membantu menimbang pilihannya bersama Anda.

Poin penting

  • Untuk sebagian besar aplikasi bisnis, database relasional adalah inti yang tepat. PostgreSQL adalah pilihan default paling aman, dan MySQL tepat jika tim atau hosting sudah terbiasa dengannya.
  • Cek versi sekarang: MySQL 8.0 sudah end of life sejak April 2026, dan PostgreSQL 14 berakhir 12 November 2026.
  • SQLite cocok untuk mobile, desktop, embedded, dan website kecil, tetapi hanya mengizinkan satu penulis dalam satu waktu.
  • MongoDB cocok untuk dokumen beragam yang dibaca utuh. Memilihnya untuk menghindari desain skema biasanya hanya memindahkan kerumitan ke kode aplikasi dan laporan.
  • Redis atau Valkey ditempatkan di samping database utama untuk cache, session, dan antrean. Tambahkan mesin pencari atau analitik hanya untuk kebutuhan yang terukur.
Bagikan artikel ini

Artikel terkait

Artikel lain tentang software development, AI, cloud, dan infrastruktur.

Laptop yang menampilkan query SQL di code editorPengembangan Backend

10 menit baca

Index Database dalam Praktik: Kenapa Query Jadi Lambat dan Index Mana yang Memperbaikinya

Kami mengisi PostgreSQL 18 dengan dua juta data pesanan lalu mengukur query yang umum dipakai, dengan dan tanpa index. Satu index memangkas query dari 40 ms menjadi 0,2 ms, index lain sama sekali tidak berpengaruh, dan satu query justru lebih lambat dengan index. Apa kata angka-angka itu tentang composite index, urutan kolom, fungsi di WHERE, partial index, dan dampaknya ke proses tulis.

Kode program di monitor dengan code editor bertema gelapPengembangan Backend

10 menit baca

REST API dengan JSON, XML, atau gRPC: Mana yang Tepat untuk Aplikasi Anda?

REST, JSON, XML, dan gRPC sering dibandingkan seolah-olah sejenis, padahal tidak. Apa keunggulan masing-masing, hasil pengukuran ukuran data yang sebenarnya, kapan XML masih wajib dipakai di Indonesia, dan cara sederhana memilih untuk API publik, integrasi dengan mitra, dan layanan internal.

Mari berdiskusi

Sedang mencari partner untuk pengembangan software?

Ceritakan proyek yang sedang Anda bangun, kebutuhan yang ingin diselesaikan, dan tantangan yang dihadapi. Kami dapat membantu membahas pendekatan teknis, scope, timeline, dan estimasi biaya.

Mulai diskusi