Semua artikel

Kapan Perusahaan Perlu Kubernetes? Yang Perlu Diketahui Sebelum Migrasi

Apa yang sebenarnya diselesaikan Kubernetes, berapa besar beban operasionalnya, alternatif yang lebih sederhana seperti managed container, tanda-tanda tim sudah siap, dan praktik yang membuat cluster pertama lebih mudah dikelola.

DevOps|Dipublikasikan |9 menit baca
Kapal kargo yang membawa banyak kontainer di laut

Kubernetes sudah jadi jawaban standar untuk pertanyaan bagaimana menjalankan container di production, dan banyak tim memakainya karena terlihat seperti pilihan perusahaan yang serius. Platformnya memang sangat mampu, tapi juga membawa pekerjaan operasional yang tidak pernah berhenti. Untuk sebagian perusahaan, pekerjaan itu terbayar berkali-kali lipat. Untuk yang lain, platform yang lebih sederhana bisa memberi keandalan yang sama dengan usaha yang jauh lebih kecil. Artikel ini membantu Anda melihat perusahaan Anda masuk kelompok yang mana.

Apa yang Sebenarnya Diselesaikan Kubernetes

Kubernetes menjalankan container di sekumpulan server dan menjaga semuanya tetap sesuai kondisi yang Anda tuliskan. Anda menentukan berapa banyak salinan sebuah service yang harus jalan, berapa CPU dan memori yang dibutuhkan, dan bagaimana service itu diakses. Kubernetes lalu menempatkannya di server, menjalankan ulang kalau mati, menggantinya satu per satu saat rolling update, dan menambah jumlahnya saat beban naik. Antar service bisa saling menemukan lewat nama, dan konfigurasi serta secret dikelola dengan cara yang sama.

Fitur-fitur ini paling terasa manfaatnya kalau service-nya banyak, ada beberapa tim yang deploy sendiri-sendiri, atau perusahaan harus menjalankan platform yang sama di beberapa cloud maupun data center sendiri.

Beban Operasionalnya

Biaya terbesar Kubernetes ada di waktu orang. Walaupun control plane-nya sudah dikelola penyedia cloud seperti Amazon EKS, Google GKE, atau Azure AKS, tim tetap harus mengurus banyak hal di sekitarnya.

  • Upgrade. Kubernetes merilis tiga versi minor setiap tahun, dan setiap versi hanya didukung sekitar empat belas bulan. Layanan managed juga mengikuti siklus ini dan mengenakan biaya tambahan atau memaksa upgrade untuk versi lama, jadi upgrade cluster dan add-on-nya jadi proyek rutin.
  • Jaringan dan ingress: load balancer, ingress controller, sertifikat TLS, DNS, dan network policy.
  • Keamanan: pengaturan akses dengan RBAC, pengelolaan secret, scan image, dan memastikan workload tidak jalan dengan hak akses berlebihan.
  • Observability: metrics, log, dan alert untuk cluster maupun aplikasi di dalamnya.
  • Pengetahuan: developer perlu memahami pod, deployment, service, probe, dan resource limit supaya bisa men-debug aplikasinya sendiri.

Alternatif yang Lebih Sederhana

PilihanCocok untukKonsekuensinya
VM dengan Docker ComposeSatu aplikasi, tim kecil, trafik sedangScaling dan failover manual, server-nya sendiri perlu dirawat
Managed container (Amazon ECS di Fargate, Google Cloud Run, AWS App Runner)Beberapa service yang butuh autoscaling dan rolling deploymentTerikat ke satu penyedia cloud, pilihan kustomisasi lebih sedikit
Platform as a serviceAplikasi web standar yang sesuai aturan platformnyaKontrol atas runtime lebih terbatas, biaya naik seiring skala
Managed Kubernetes (EKS, GKE, AKS)Banyak service, beberapa tim, kebutuhan portabilitasBeban operasional dan belajar paling tinggi dibanding tiga pilihan lain

Untuk banyak perusahaan yang menjalankan beberapa aplikasi web dan API di AWS, ECS di Fargate sudah menyediakan rolling deployment, health check, autoscaling, dan integrasi secret tanpa ada cluster yang perlu di-upgrade. Pindah ke Kubernetes di kemudian hari juga lebih mudah kalau aplikasinya sudah dalam bentuk container dan konfigurasinya lewat environment variable.

Tanda-Tanda Tim Sudah Siap Pakai Kubernetes

  • Service yang dijalankan sudah banyak, dan beberapa tim men-deploy-nya sendiri-sendiri.
  • Perusahaan butuh platform yang sama di lebih dari satu cloud, atau di cloud dan data center sendiri.
  • Ada kebutuhan untuk menyeragamkan cara aplikasi di-deploy, dipantau, dan diamankan di seluruh perusahaan.
  • Ada minimal satu orang, idealnya tim platform kecil, yang memang bertugas mengurus cluster.

Tes sederhana: sebutkan siapa yang akan meng-upgrade cluster tahun depan. Kalau tidak ada nama yang terpikir, untuk saat ini managed container service kemungkinan besar pilihan yang lebih tepat.

Praktik Supaya Cluster Pertama Mudah Dikelola

  • Pakai control plane yang dikelola penyedia cloud, dan mulai dari aplikasi stateless. Simpan database di layanan database managed sampai tim terbiasa menjalankan workload stateful.
  • Atur request dan limit CPU serta memori untuk setiap container, supaya scheduler bisa menempatkan workload dengan benar dan satu service tidak menghabiskan resource service lain.
  • Pasang readiness dan liveness probe yang benar-benar mengecek apakah aplikasi bisa melayani request.
  • Simpan semua manifest di Git dan deploy lewat pipeline atau tool GitOps seperti Argo CD atau Flux, supaya tidak ada yang mengubah cluster secara manual.
  • Kemas aplikasi dengan cara yang seragam memakai Helm atau Kustomize, jangan menyalin YAML dari satu service ke service lain.
  • Jadikan upgrade sebagai rutinitas: tes setiap versi baru di cluster staging dulu, dan jangan sampai tertinggal lebih dari satu versi.

Siapkan Kemampuan Tim Lebih Dulu

Kebanyakan masalah Kubernetes di tahun pertama datang dari kurangnya pemahaman tim, jarang dari platformnya sendiri. Developer perlu paham bagaimana aplikasinya berperilaku di dalam pod, dan setidaknya sebagian tim perlu paham cluster di bawahnya. Ujian Certified Kubernetes Application Developer (CKAD) cocok jadi target untuk developer: ujiannya praktik langsung di terminal dengan cluster sungguhan, dan materinya adalah pekerjaan sehari-hari developer seperti menulis deployment, mengatur probe, dan men-debug pod. Untuk orang yang akan mengelola cluster, Certified Kubernetes Administrator (CKA) mencakup instalasi, upgrade, dan troubleshooting.

Jalur Migrasi yang Masuk Akal

  1. 1Kemas aplikasi dalam container dan pindahkan konfigurasi ke environment variable, apa pun platform yang nanti dipilih.
  2. 2Kalau service-nya baru sedikit, jalankan dulu di managed container service, dan berhenti di situ kalau kebutuhannya sudah terpenuhi.
  3. 3Kalau Kubernetes memang cocok, latih timnya lalu siapkan managed cluster untuk staging, dengan manifest di Git sejak hari pertama.
  4. 4Pindahkan satu service stateless yang risikonya rendah ke production, jalankan beberapa minggu, dan perbaiki kekurangan di monitoring dan deployment.
  5. 5Pindahkan service lain satu per satu, dan jadwalkan upgrade cluster pertama sebelum benar-benar mendesak.

Poin penting

  • Kubernetes sepadan kalau service-nya banyak, timnya beberapa, atau ada kebutuhan multi-cloud atau hybrid. Untuk beberapa aplikasi saja, platform yang lebih sederhana sering memberi keandalan yang sama.
  • Biaya terbesarnya ada di operasional: upgrade yang sering, jaringan, keamanan, observability, dan pengetahuan tim.
  • Managed container seperti ECS di Fargate atau Cloud Run adalah jalan tengah yang kuat, dan memakai container sejak awal membuat jalan ke Kubernetes tetap terbuka.
  • Kalau memakai Kubernetes, gunakan control plane managed, mulai dari aplikasi stateless, atur resource limit dan probe, dan deploy dari Git.
  • Siapkan kemampuan tim sebelum migrasi. CKAD cocok untuk developer, dan CKA cocok untuk orang yang mengelola cluster.

Artikel terkait

Artikel lain tentang software development, AI, cloud, dan infrastruktur.

Smartphone yang menampilkan folder berisi aplikasi pesan
Pengembangan AI|

Chatbot AI untuk Bisnis: Manfaat, Contoh Penggunaan, dan Biayanya

Panduan untuk pemilik bisnis yang mempertimbangkan chatbot AI: bedanya dengan chatbot biasa, kapan sepadan, contoh per industri, memilih antara website, Telegram, dan WhatsApp, komponen biaya, dan cara mengukur hasilnya.

Terminal Linux yang menampilkan prompt Ubuntu dengan perintah sudo
Tools Developer|

Setup WSL 2 untuk Development di Windows: Panduan Praktis

Panduan development di Windows dengan WSL 2: instalasi, di mana menyimpan file proyek, VS Code dan Git, membatasi memori lewat .wslconfig, Docker dan systemd, networking, backup, dan solusi masalah yang sering muncul.

Sedang mencari partner untuk pengembangan software?

Ceritakan proyek yang sedang Anda bangun, kebutuhan yang ingin diselesaikan, dan tantangan yang dihadapi. Kami dapat membantu membahas pendekatan teknis, scope, timeline, dan estimasi biaya.

Mulai diskusi